Tips Menghentikan Kebiasaan Bayi Ngempeng

Tips Menghentikan Kebiasaan Bayi Ngempeng

Memberikan empeng atau dot pada bayi bukanlah sesuatu yang buruk karena bayi ngempeng juga ada manfaatnya sendiri yaitu bayi jadi lebih tenang, jarang nangis, dan tingkat risiko Sindrom Kematian Mendadak pada bayi (SIDS) menurun. Tapi empeng bisa menjadi masalah ketika ngempeng sudah menjadi kebiasaan. Banyak ibu yang kewalahan ketika harus menghentikan kebiasaan ini. Apa bunda juga mengalami hal yang sama? Kalau begitu, tips berikut ini mungkin bisa membantu bunda.

Kapan kebiasaan bayi ngempeng harus dihentikan?

Tips Menghentikan Kebiasaan Bayi Ngempeng
Tips Menghentikan Kebiasaan Bayi Ngempeng

Tidak ada patokan kapan usia ideal bayi untuk menghentikan kebiasaan ngempeng. Tapi semakin cepat bunda melakukannya maka semakin gampang si kecil berhenti ngempeng. Kebanyakan ibu memulai usahanya ketika umur bayi antara 5-6 bulan. Pakar anak menyarankan sebaiknya kebiasaan ngempeng dihentikan ketika bayi belum berumur setahun karena di masa ini perkembangan kognitif bayi belum berkembang untuk bayi bisa membangun ikatan erat dengan empengnya. Lewat dari 18 bulan, si kecil sudah terikat secara emosional dengan empengnya jadi jangan heran kalau nanti bunda menjumpai aksi nangis gerung-gerung, teriak-teriak, dan guling-guling di lantai saat bunda berusaha memisahkan si kecil dengan empengnya.

Tips menghentikan kebiasaan bayi ngempeng

Tips Menghentikan Kebiasaan Bayi Ngempeng
Tips Menghentikan Kebiasaan Bayi Ngempeng
  • Direncanakan matang.

Menghentikan kebiasaan bayi ngempeng pada bayi berusia kurang dari 12 bulan lebih gampang. Si kecil cukup tidak dikasih empeng dan dialihkan perhatiannya dengan mainan atau digendong saat menangis dan tak lama kemudian si kecil sudah lupa dengan empengnya. Beda halnya kalau si kecil sudah lebih dari setahun. Bunda harus merencanakan dengan matang, harus lebih kreatif. Si kecil sudah lengket dengan empengnya jadi cara biasa yaitu tidak memberikan empeng tidak akan manjur lagi.

Bunda bisa memberi tahu si kecil kalau empengnya akan didaur ulang dan dijadikan mainan baru untuk anak-anak lain. Biasanya cara ini akan membuat si kecil mengerti bahwa empengnya tidak akan dibuang dan daur ulang itu adalah suatu hal baik. Bukan tidak mungkin si kecil sendiri yang nantinya akan membungkus empengnya ditambah mainan lainnya. Cara lainnya adalah ibu bisa mengoleskan sesuatu yang rasanya tidak enak pada empengnya jadi si kecil tidak mau lagi menyentuhnya misalnya dioleskan air perasan lemon yang kecut atau cuka.

  • Sabar dan sabar

Reaksi anak ketika empengnya diambil beda-beda. Ada anak yang anteng-anteng saja tapi ada juga yang sering terbangun tengah malam atau marah-marah atau nangis sambil guling-guling di lantai. Semua itu merupakan bagian dari proses. Jadi bunda harus meningkatkan kesabaran dalam menghadapi kemungkinan badai tangis dan ulah anak kedepannya.

  • Tegas

Jika bunda sudah memutuskan untuk tidak memberikan empeng pada si kecil maka bunda harus teguh pada keputusannya dan tidak akan goyah meski si kecil merengek atau ngamuk sekalipun. Anak-anak itu pintar, bunda. Jika bunda kembali memberikan empeng ketika mereka merengek dan nangis, mereka akan tahu bahwa aksi mereka ini bisa meluluhkan hati bunda dan seterusnya mereka akan melakukannya lagi bahkan semakin lama aksi mereka ini akan lebih dahsyat dari sebelumnya. Kalau bunda tegas dan dari awal mengatakan tidak, anak-anak akan mengerti bahwa mereka tidak boleh ngempeng lagi. Lama kelamaan mereka akan menerima keputusan bunda dan lupa dengan empengnya.

  • Beritahu orang sekitar

Sebaiknya bunda memberitahukan orang-orang di sekitar si kecil bahwa bunda sedang berusaha menghentikan kebiasaan ngempengnya. Percuma kan kalau bunda sudah susah payah usaha tapi orang lain yang tidak tahu malah memberikan empeng pada si kecil. Beritahu kakek, nenek, tante, om, pengasuh, siapapun yang sering berinteraksi dengan si kecil mengenai keputusan bunda. Siapa tahu mereka juga bisa memberikan saran lain yang lebih ampuh dalam menghentikan kebiasaan bayi ngempeng.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *